45 KAIDAH – Serial Pendidikan (2)

Bismillahirrahmanirrahim

Maka, betapa butuhnya kita untuk mengenali kembali arah dan tujuan pendidikan kita, kaum muslimin, sebagaimana yang dimanahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Oleh karenanya, naskah ini didedikasikan untuk merangkai nilai-nilai utama dimaksud. Kami menelusuri berbagai literatur klasik maupun modern, sejauh yang dapat kami jangkau, dan merangkumnya dalam 45 kaidah ringkas. Dan, dilatari kebutuhan untuk memahami secara lebih luas nilai-nilai di baliknya, kami menulis pula paparan-paparan yang menjadi landasan pemikirannya. Adapun 45 kaidah dimaksud adalah, sbb:

  1. Puncak ilmu adalah rasa takut kepada Allah ta’ala, buahnya adalah amal, dan keduanya terangkum dalam hidayah.
  2. Ilmu adalah ibadah yang paling utama dan jalan untuk ber-taqarrub kepada Allah. Tidak akan ada ibadah yang benar jika tidak dilandasi ilmu.
  3. Ilmu adalah jalan menuju Allah. Ia harus dicari dengan menerapkan adab-adab yang layak bagi sebuah suluk (perjalanan spiritual). Seorang thalib (pencari ilmu) adalah sekaligus seorang salik (penempuh jalan spiritual).
  4. Pendidikan adalah perjalanan spiritual menuju kesempurnaan diri. Setiap tahap usia dan kondisi mengharuskan seseorang mempunyai ilmu yang diperlukan agar ia dapat menjalaninya secara benar. Mencari ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat.
  5. Ilmu adalah cahaya Allah ke dalam hati manusia; karunia-Nya yang teragung setelah penciptaan. Manusia menjadi istimewa dibanding makhluk mana pun selainnya dikarenakan ilmu, bukan yang lain.
  6. Ilmu dan pendidikan yang benar akan membangun visi hidup yang lurus serta meneguhkan fithrah. Bila hidup seseorang diisi dengan ilmu dan pendidikan yang sia-sia, maka sejarah hidupnya akan dipenuhi dengan banyak kesalahan, kelalaian, dan bahkan penyimpangan.
  7. Ilmu adalah warisan para Nabi. Sebagaimana tidak setiap orang layak menerima anugerah kenabian, sedemikian pula tidak setiap orang akan mendapatkan warisan mereka tanpa memenuhi syaratnya dan menjaga kondisi yang diperlukan baginya. Hanya saja, kenabian adalah anugerah Allah yang tidak bisa diusahakan, sementara ilmu adalah karunia yang tergantung kepada kesadaran, usaha dan pilihan-pilihan.
  8. Ilmu sangat banyak dan beraneka ragam, dan karenanya setiap orang harus pandai-pandai memilih ilmt yang terpenting dan terbaik baginya. Ilmu yang terpenting dan terbaik bagi seseorang adalah yang bermanfaat, untuk kemaslahatan hidupnya di dunia maupun akhirat.
  9. Setiap orang mempunyai keadaan (al-haal) yang berlainan, sehingga hajatnya terhadap ilmu pun tidak sama. Ilmu yang wajib dicari adalah yang selaras dengan keadaan (‘ilmu al-haal) seseorang di suatu waktu, bukan semua atau sembarang ilmu.
  10. Semua ilmu yang terpuji adalah layak dipelajari, dengan memperhatikan tingkat kesukaran, urgensi dan prasyaratnya. Kebanyakan ilmu bersifat “saling menolong”, dan terikat antara satu dengan lainnya sedemikian rupa. Bila ada kesempatan, tidaklah pantas untuk tidak mengenal setiap ilmu dan mengembangkan wawasan yang seluas-luasnya. Pengetahuan yang terbatas adalah bibit fanatisme dan sikap ekstrem yang merusak. Manusia cenderung memusuhi segala yang tidak dikenalnya.
  11. Ilmu-lmu yang tidak penting, tercela, atau belum saatnya ditelaah, bukan hanya menyia-nyiakan waktu dan tenaga, namun lebih jauh bisa menimbulkan gangguan jiwa dan bahkan kesesatan. Seburuk-buruk jalan hidup adalah “tersesat dalam ilmu”.
  12. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang dengannya seseorang beriman kepada Allah, memahami hukum-hukum syari’at, sunnah-sunnah, berbagai hudud, serta persamaan (ittifaq) dan perbedaan (ikhtilaf) umat dalam sesuatu masalah.
  13. Seluruh ilmu pada akhirnya akan tersimpul pada empat perkara, yaitu: mengenal Allah, mengenali apa yang Dia perbuat terhadap kita, mengenali apa yang Dia kehendaki dari kita, dan mengenali apa yang tidak boleh kita terima sebagai bagian dari agama kita, atau apa yang bisa membuat kita keluar dari agama ini.
  14. Sumber ilmu adalah wahyu, kemudian akal dan pengalaman/eksperimen. Setiap segala sesuatu harus ditempatkan sesuai dengan kedudukannya.
  15. Pada dasarnya, ilmu itu sendiri adalah keutamaan, karunia dan kesenangan. Namun, ilmu sejati hanyalah wahyu, serta segala sesuatu yang terkait, bersumber atau selaras dengannya. Ilmu yang tidak bersumber dari wahyu harus ditimbang kegunaan dan kebenarannya oleh ukuran wahyu, bukan sebaliknya. Sementara, segala ilmu yang bertentangan dengan nilai-nilai wahyu pada dasarnya adalah ilmu semu (pseudo-science) dan tercela.
  16. Mempelajari kemahiran profesional adalah bagian dari kasab (bekerja untuk penghidupan) seseorang secara terbatas, bukan bagian dari ilmu yang wajib dikuasai semua orang. Akan tetapi, bekerja untuk mendapatkan yang halal adalah kewajiban.
  17. Adab adalah metodologi empirik dan disiplin spiritual seorang pencari ilmu; membangun aspek lahir sekaligus batin; dan bersandar kepada aspek fisik sekaligus metafisik. Pelajarilah adab sebelum ilmu.
  18. Setiap metodologi ilmu dan sistem pendidikan adalah cerminan dari falsafah hidup atau pandangan dunia (worldview) yang dilayaninya; dan tidak bisa begitu saja diterima (adopted) serta diterapkan (adapted) tanpa mewaspadai pandangan dunia yang melahirkannya. Keduanya tidak bebas nilai (value-free), tetapi sarat nilai (value-laden). Keduanya adalah muatan dan wahana transformasi serta pewarisan nilai.
  19. Setiap nilai yang permanen dalam Islam adalah permanen dan ditransmisikan kepada peserta didik apa adanya. Ia bersifat abadi dan universal, tidak menerima perubahan (tahwil) maupun penggantian (tabdil).
  20. Syari’at dan ushuluddin tidak menerima ijtihad, ra’yu, dan ta’wil. Tiga hal ini hanya berlaku dalam fiqh dan masalah-masalah furu’, serta tidak dibenarkan jika bertentangan dengan hal-hal yang permanen serta diterima secara bulat (ijma’) dalam syari’at dan ushuluddin.
  21. Awal ilmu adalah hafalan (hifzh), kemudian pemahaman (fahm), lalu kepercayaan (i’tiqad), keyakinan (iiqan), dan pembenaran (tashdiq). Ilmu yang dikaji tanpa menghasilkan tashdiq akan gagal melahirkan amal, terutama yang ikhlas.
  22. Kemajuan sejati adalah kembalinya umat kepada kondisi kemurnian pengetahuan, pemahaman dan pengamalan Islam seperti di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dua generasi terbaik setelahnya (khairu al-quruun).
  23. Ilmu diberikan melalui tahapan, karena tidak mungkin ditemukan anak tangga kedua jika yang pertama pun tidak ada.
  24. Ilmu ditanamkan sesuai kesanggupan penerima, karena berjejalnya suara di telinga bisa menyesatkan.
  25. Berdiskusi, menyaksikan tukar pandangan, dan membaca buku adalah kebaikan dan peneguh ilmu, namun melakukannya dengan terburu-buru sebelum mempunyai kesiapan yang memadai justru membingungkan dan menyesatkan. Kebanyakan ilmu membutuhkan prasyarat, dan sebagian lagi harus dijelaskan alur serta sebab-musababnya agar bisa dimengerti dengan benar.
  26. Buku yang baik akan membangun dan menyehatkan jiwa, tetapi buku yang buruk akan mengacau dan menghancurkannya.
  27. Ilmu adalah apa yang hidup dalam diri seseorang, bukan apa yang termaktub dalam buku-buku. Ilmu seharusnya diperoleh melalui pewarisan dan bimbingan guru, bukan semata-mata dicari sendiri dan dibaca dari berbagai literatur. Orang yang berguru hanya kepada buku akan menyia-nyiakan banyak hukum (ilmu).
  28. Ilmu dan pendidikan bukan persoalan menerima dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, tetapi membangun cara berpikir dan bersiap menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Setiap usaha mencari ilmu harus dimulai dari usaha mencari guru.
  29. Awal pendidikan yang sukses adalah kepercayaan (tsiqah) kepada guru, yang terus-menerus dijaga dengan kecintaan (al-mahabbah), prasangka baik (husnu-zhann) dan adab yang sempurna (al-adab al-kamil).
  30. Diantara pertanda keberhasilan adalah keistiqamahan dalam menyerap ilmu dari seorang guru (=lembaga pendidikan). Kecenderungan untuk berpindah-pindah guru sebelum matang adalah awal kekacauan dalam ilmu dan kegagalan dalam belajar.
  31. Kematangan sejati seorang penuntut ilmu ditandai dengan ridha serta kepuasan guru terhadapnya. Restu guru adalah tali penyambung ilmu dari generasi ke generasi; bukan hanya tulisan diatas lembaran-lembaran bisu.
  32. Hubungan antara guru dan murid adalah pertalian yang tidak berakhir dengan wisuda maupun perpisahan fisik, namun bersifat abadi dan tak tergantikan. Sebagaimana orangtua yang melahirkan dan membangun jasad, maka seorang guru melahirkan dan membangun ruh.
  33. Diantara pertanda lurusnya niat dalam mencari ilmu adalah rapinya persiapan sebelum liqa’ (pertemuan dengan guru). Setiap liqa’ membutuhkan niat tersendiri, yang dicerminkan oleh persiapannya.
  34. Waktu adalah bekal yang diberikan Allah kepada setiap pencari ilmu. Hanya saja, masing-masing mereka berbeda dalam memperlakukannya, sehingga keberhasilan mereka pun tidak sama.
  35. Ilmu bagaikan hewan buruan. Setelah didapat, ia harus diikat agar tidak lepas. Pengikat ilmu adalah mencatat (al-kitabah), mempraktekkan (al-‘amal), mengajarkan (at-ta’lim) dan mengulang kembali (al-mudzakarah). Sedangkan menulis karangan (at-tashnif) dan menyusun karya (at-ta’lif) akan menjadikan ilmu lebih matang, berkembang dan abadi.
  36. Ujian menanti para pencari ilmu di sepanjang jalan yang ditempuhnya. Di permulaannya, ia dihadang oleh niat yang salah; di tengahnya ia diuji oleh adab yang buruk; dan di penghujungnya ia berhadapan dengan ‘ujub, riya’ dan takabbur.
  37. Setiap adab mungkin terbangun diatas satu diantara dua sumber, yaitu pembawaan (thabi’iyyah) dan kebiasaan (‘aadiyah). Dalam mencari ilmu, seseorang harus memerangi pembawaan yang buruk dan membangun kebiasaan yang baik; memperkuat pembawaan yang terpuji dan menekan kebiasaan yang tercela.
  38. Surga bagi seorang pencari ilmu adalah ketidaktahuannya. Spirit yang akan mendorongnya untuk bergegas adalah rasa ingin tahunya. Setiap kali ia merasa sudah tahu dan merasa cukup dengan ilmunya, sungguh ia telah menjadi makhluk terbodoh yang pernah ada. Setiap kali ia tidak merasa ingin tahu, maka sebenarnya ia telah mati.
  39. Kesombongan menghalangi seseorang dari manfaat ilmu. Sebagaimana halnya air yang tidak mengalir ke tempat lebih tinggi, maka demikian pula ilmu; ia tidak akan memasuki jiwa pelajar yang tinggi hati.
  40. Ketergesaan membahayakan pencari ilmu, seperti tanah licin yang dengan mudah menggelincirkan kaki. Siapapun yang tidak sanggup bersabar menjadi pelajar, akan terjatuh ketika tiba saatnya menjadi guru. Siapapun yang tidak mampu sesaat menahan kepahitan dalam mencari ilmu, pasti mengecap pahitnya kebodohan di seluruh sisa usianya.
  41. Tiada perhiasan terbaik bagi ilmu (al-‘ilm) selain sikap santun (al-hilm). Ilmu bagaikan mata pedang, sedangkan kesantunan adalah gagangnya. Tidak ada gunanya mata pedang yang tajam jika gagangnya tidak kuat.
  42. Sendiri mencari ilmu dengan tanpa kawan seiring bisa memicu kejenuhan dan bahkan ketergelinciran. Namun, bergaul dengan kawan yang buruk adalah bencana.
  43. Kemewahan dan kemanjaan penghidupan semasa belajar akan menumpulkan jiwa. Namun, kebersahajaan dan kesediaan untuk menanggung beban adalah palu penempa dan batu pengasah jiwa.
  44. Merehatkan jiwa akan membangkitkan kekuatan, namun berkubang dalam senda-gurau dan permainan adalah bukti kelemahan serta kemalasan.
  45. Makanan sehat adalah sumber kekuatan tubuh dalam mencari ilmu, sedangkan makanan halal adalah pembangun energi jiwa untuk menyerap ilmu dan mencerna barakah-nya.

Dan akhirnya, sungguh tiada daya dan kekuatan kecuali atas izin dan perkenan dari Allah ta’ala. Kepada-Nya setiap pencari ilmu selayaknya bersandar, sebab hanya Dialah pemilik hidayah, yakni puncak ilmu.

Dalam pasal-pasal berikut, kami akan memaparkan dasar pemikiran dari setiap nilai dan kaidah yang telah dicantumkan diatas, insya-Allah. Setiap pasal mungkin akan merujuk kepada lebih dari satu kaidah, dan satu kaidah yang sama mungkin saja dirujuk oleh beberapa pasal berbeda. Semoga bermanfat. Amin.

— bersambung —

Subscribe

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

No Responses

Leave a Reply