Membangun Mental Da’i (Kajian Surah al-Muddatsir: 6-7)

Bismillahirrahmanirrahim

Ayat 6 dan 7 surah al-Muddatsir, menurut zhahir riwayat dalam Shahih al-Bukhari, tak termasuk kelompok wahyu kedua yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang hanya memuat 5 ayat. Meski demikian, riwayat-riwayat yang lain ada juga yang menyebutkan keduanya termasuk “satu paket” bersama 5 ayat permulaan, yang berisi “bekal mental dalam berdakwah”.

Kedua ayat ini jelas tidak turun bersama dengan kelompok ayat berikutnya, yang dimulai dari fa-idza nuqira fin-naaquur. Hanya saja, tema yang diusung oleh rangkaian kelompok ayat ini tidak bisa dipisah-pisahkan secara tegas, baik dengan 5 ayat terdahulu (pesan-pesan Allah sebagai bekal untuk melangkah di medan dakwah) atau ayat-ayat selanjutnya yang berbicara tentang kedahsyatan Hari Kiamat.

Dalam ‘ulumul Qur’an, keserasian semacam ini dikenal dengan ilmu munasabah. Ini merupakan salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an, dimana ayat-ayat yang turun dalam rentang berjauhan, dengan asbab nuzul berlainan, secara indah dapat dirangkai demikian tepat sehingga pembaca tidak menyadari bahwa ayat-ayat itu tidaklah diturunkan bersamaan. Ada beberapa kitab yang ditulis para ulama’ tentang masalah ini; misalnya kitab Imam as-Suyuthi berjudul Tanasuqud Durar fi Tanasubi as-Suwar (untaian permata dalam keserasian surah-surah al-Qur’an), yang menyajikan bagaimana 114 surah yang diturunkan menurut tartib nuzuli bisa terangkai indah dalam tartib mushafi.

) وَلاَ تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (

Imam al-Qurthuby menyebutkan 11 makna untuk ayat ini, yang dilandasi kepada pemahaman makna kebahasaan (lughawi). Dan, menurut beliau, yang paling pas adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, “Janganlah engkau memberi dengan berharap dapat mengambil (balasan) yang lebih banyak berupa materi.” Makna seperti ini juga dipilih Imam Ibnu Katsir dan penulis Tafsir al-Jalalain.

Akan tetapi, Imam Ibnu Jarir ath-Thabari memilih pendapat lain, “Menurut saya, pendapat yang paling tepat (awla bish-shawab) adalah jangan mengungkit-ungkit terhadap Tuhanmu dengan menganggap bahwa amal shalihmu sudah sangat banyak. Saya mengatakan makna ini sebagai yang paling tepat karena konteks ayat (siyaqu al-ayat) memuat perintah Allah kepada nabi-Nya agar bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya dan bersabar atas gangguan yang menimpanya. Maka, makna ini lebih mirip dengan (konteks makna) ayat-ayat lainnya dibanding pendapat-pendapat yang lain. “

Dari sisi berbeda, Profesor Quraish Shihab memilih makna lain, “Jangan menganggap usahamu (berdakwah) sebagai anugerah kepada manusia, karena dengan demikian engkau [berharap] akan memperoleh [balasan] yang banyak. [Sebab], perolehan yang banyak ini bukan bersumber dari manusia, tetapi berupa ganjaran dari Allah.” Alasannya, ayat ini meletakkan beban tanggung jawab diatas pundak Nabi untuk berdakwah tanpa pamrih, yakni tidak mengharap imbalan duniawi. Pernyataan seperti ini merupakan prinsip dasar dalam dakwah yang diucapkan oleh para Nabi dan Rasul di banyak tempat dalam al-Qur’an. Juga, karena makna-makna yang lain tidak didukung oleh penggunaan lafazh itu dalam redaksi al-Qur’an di tempat berbeda.

Jika kita sederhanakan, ketiga pendapat yang merupakan tarjih atas beragam penafsiran yang ada, masing-masing membawa kekuatan dan keistimewaan tersendiri. Satu sama lain tidak saling bertentangan. Secara ringkas, dapat kami jelaskan sbb :

Pendapat pertama memakai pendekatan bahasa (lughawi), dan inilah yang paling kuat serta cepat dimengerti oleh pendengar ketika kata-kata tersebut diucapkan. Bahwa, seseorang tidak boleh memberikan sesuatu dengan berharap akan memperoleh balasan lebih banyak. Motif seperti ini biasanya lahir dari niat yang tidak tulus, rasa cinta dunia (hubbud dun-ya), menjilat, pamer (riya’), serakah (thama’), dan penyakit-penyakit hati lainnya. Semangat yang dipompakan adalah mengikis habis bibit-bibit akhlaq madzmumah.

Dalam pendapat kedua, yang lebih mengedepankan konteks ayat-ayat dalam surah al-Muddatsir itu sendiri, dapat kita peroleh rangkaian yang utuh mengenai bekal mental-spiritual seorang muslim dalam rangka terjun berdakwah. Bahwa, tidaklah layak bagi seorang muslim – apalagi sebagai da’i – untuk memendam perasaan bahwa ia telah berbuat sangat banyak kepada umat dan agama ini, atau memandang dirinya sebagai orang yang telah menumpuk amal shalih sedemikian rupa, sehingga merasa ‘berhak’ untuk menyebut-nyebutnya di hadapan Allah. Ini adalah sikap yang tidak beradab di hadapan-Nya. Sebab, sebagaimana diriwayatkan dari banyak ulama’ salaf, semestinya kita memandang diri ini penuh dengan kekurangan dan kelalaian dalam menegakkan agama-Nya. Diatas sikap seperti inilah taubat, semangat memperbaiki diri (ishlah), rendah hati (tawadhu’), merasa diawasi Allah (muraqabah), akan tumbuh subur. Semangat yang dibawa adalah menyuburkan lahan untuk menyemai akhlaqul karimah.

Sementara, dalam pendapat ketiga, dilakukan penilaian secara lebih luas dengan meneliti konteks lafazh itu dalam penggunaan al-Qur’an secara keseluruhan. Semangat yang diusung disini adalah ketulusan tanpa batas dalam berdakwah dan menyampaikan pesan-pesan kebenaran kepada orang lain. Sebab, jika dakwah dilandasi oleh suatu kepentingan di luar dakwah itu sendiri, (yakni, di luar upaya meraih ridha Allah dan kebahagiaan akhirat), maka ia akan mudah untuk dibelokkan, disalahgunakan, bahkan disesatkan. Di titik ini, yang diperlukan adalah kehati-hatian dan taushiyah intensif, agar niat tak berubah dan tujuan tak berganti. Sebab, di sepanjang jalan dakwah acap muncul hal-hal baru yang menggiurkan. Karena hati (qalb) selalu bergejolak, maka kita tidak bisa merasa aman tanpa terus-menerus mengendalikannya.

) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ  (

Hampir seluruh mufassirin sepakat, bahwa makna ayat ini adalah bersabar atas ujian, gangguan dan beban berat dalam memikul amanah dakwah di jalan Allah. Pesan yang disampaikannya demikian jelas dan lugas, sehingga tidak memungkinkan makna lain.

Secara bahasa, sabar adalah “menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang lebih baik”. Aslinya, kata ini mengandung pengertian menjamin, menahan dalam kesempitan, dan pemuka yang menjadi pelindung kaumnya. Dari akar ini dibentuk pula ungkapan-ungkapan lain dengan beragam makna, seperti gunung yang tegar dan kokoh, awan yang berada di atas awan lainnya sehingga menaungi apa yang ada di bawahnya, tanah gersang, sesuatu yang pahit atau menjadi pahit, dsb. Dengan kata lain, di dalam kesabaran mesti terkandung makna-makna ini.

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, seperti dikutip Quraish Shihab, makna ash-shabr dalam al-Qur’an berpuncak kepada 3 kondisi yang disebutkan surah al-Baqarah ayat 177, yakni : dalam menghadapi al-ba’saa’, adh-dharraa’ dan hiina al-ba’si. Bersabar menghadapi kesulitan mendapatkan kebutuhan hidup terangkum dalam al-ba’saa’. Di dalam adh-dharraa’ termuat kesabaran menanggung malapetaka. Sedang hiina al-ba’si menggambarkan kesabaran di medang jihad, ketika dua pasukan sudah saling berhadapan dan beradu senjata.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Subscribe

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

No Responses

Leave a Reply