MENANAM ADAB DALAM DIRI – Serial Pendidikan (1)

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang telah memulai segalanya dengan berbagai karunia, Dzat yang Mencipta jiwa dan Membangkitkan kembali jasad yang telah hancur; yang Memberi rezeki kepada segenap umat, yang Mengajarkan kepada kita segala yang tidak kita ketahui sebelumnya. Shalawat dan salam semoga tercurah ke pangkuan Muhammad Rasulullah, penutup para Nabi, juga kepada segenap keluarganya yang baik-baik, segala puji bagi Allah. Amma ba’du:

Ya Allah, mudahkan dan bantulah!

Sesungguhnya, tidak ada kekacauan lebih besar dari apa yang diakibatkan oleh sikap berpaling dari Allah, sebagaimana disitir oleh Al-Qur’an. Keberpalingan ini akan menyemai kesalahan-kesalahan beruntun, dan berakibat pada kerusakan-kerusakan. Kerusakan itulah yang pada akhirnya menyeret manusia pada suasana hidup yang tidak nyaman, baik secara spiritual maupun material. Al-Qur’an menamai fenomena ini dengan ma’isyatan dhankan (kehidupan yang menyesakkan dada)[1] atau al-fasad (kerusakan), yang senantiasa berakar pada satu atau kombinasi dari faktor-faktor berikut: tidak mengakui eksistensi Allah (kufr), perbuatan aniaya (zhulm), pongah (farah), melampaui batas (thagha’), kesombongan (takabbur), penolakan terhadap eksistensi hari perhitungan (la yu’minu bi yaumil hisab), menyekutukan Allah (syirk), kejahatan (jarimah), serta penentangan sengit kepada kehendak dan hukum Allah (aladdul khisham).[2]

Ketika manusia telah berpaling dari Allah, maka segala perbuatan dan perilakunya hanya akan menyemai fitnah dan kebinasaan, biarpun mereka menyangka telah melakukan kebajikan sebaik-baiknya. Segenap tindakan mereka semata-mata hanya merefleksikan kebingungan dan ketersesatan yang menyedihkan (dhalla sa’yuhum fil hayati ad-dunya).[3] Ironi ini akan terus eksis sepanjang mereka belum bertaubat (taaba), memperbaiki diri atau melakukan perbaikan-perbaikan (ashlaha), beramal shalih (‘amila shalihan),[4] juga secara tulus berserah diri kepada Allah dan bersedia menaati kehendak-Nya (aslama) serta berusaha melakukan segala sesuatunya sebaik mungkin (muhsin).[5] Jika tidak, maka solusi-solusi yang mereka ciptakan pada kenyataannya hanya akan menuai masalah baru yang lebih parah, sampai akhirnya mereka terbenam dalam keputusasaan.[6]

Dewasa ini, kita menyaksikan kemajuan material yang belum pernah diraih generasi ayah-ibu kita. Namun, pada saat bersamaan kita juga mengecap kekacauan yang tiada taranya. Dunia Barat, sebagai pemimpin peradaban kontemporer, selain mempersembahkan penemuan-penemuan spektakuler, ternyata juga menjatuhkan kemanusiaan dalam krisis multidimensi. Manusia modern tengah berhadapan dengan fenomena kehancuran ini nyaris pada segala sisi kehidupannya. Sebagian dari mereka bahkan telah terkurung dalam keputusasaan yang sangat gelap. Merebaknya penggunaan obat terlarang, kecanduan alkohol, terjerat dalam perilaku menyimpang, kegilaan kepada materi dan seks, rasisme, fanatisme buta, wabah penyakit-penyakit aneh yang mematikan, permusuhan akut kepada agama dan nilai-nilai moral, hanyalah sebagian darinya yang dapat disebut. Tentu saja, semua ini bukanlah sebab, namun akibat. Sumber utama seluruh krisis ini adalah sikap berpaling dari Allah, yang sejak awal merupakan ruh peradaban Barat itu sendiri, yakni sekularisme. Dalam pengkajiannya yang serius terhadap sekularisme, Syed Naquib Al Attas dan Syekh Yusuf Al Qaradhawi akhirnya sampai pada kesimpulan yang mirip, bahwa terjemahan paling tepat dari sekularisme adalah al-ladiniyyah yang identik dengan keengganan memberi ruang pada nilai-nilai religius dan moral, atau as-sikulariyah yang lebih mencerminkan akar aslinya yaitu segala yang duniawi-saat ini, bukannya al-‘almaniyah yang identik dengan ilmu pengetahuan dan sains. Jadi, ilmu pengetahuan dan sains hanyalah aspek partikular dari sekularisme, sebab yang paling mendasar justru kebencian pada Tuhan, agama, moralitas dan segala yang berbau religius.

Sebaliknya, menurut Al-Qur’an, sikap islam (berserah dan tunduk kepada kehendak Allah) dan ihsan (melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin) adalah kunci untuk meraih balasan dari Allah (fa lahu ajruhu), ketentraman (wa la khaufun ‘alaihim) dan kenyamanan hidup (wa la hum yahzanun); sesuatu yang sangat dirindukan manusia modern. Menarik sekali bahwa ayat-ayat al-Qur’an memperlawankan kondisi ideal dan seimbang tersebut dengan ide-ide ekstrim Yahudi dan Nasrani tentang kehidupan terbaik, yang mengundang keridhaan Allah sehingga berbuah surga-Nya. Mereka mengklaim bahwa hanya dengan keyahudian dan kenasranian sajalah surga bisa diraih. Namun, al-Qur’an dengan tegas mengecam mereka dan menyebut gagasan tersebut sebagai angan-angan kosong (amaaniyyu) belaka.[8] Karena keberpalingan kepada Allah pulalah Dunia Barat tidak memiliki pegangan nilai yang pasti, sehingga tidak pernah bisa bersikap adil dan seimbang. Mereka selalu bergerak dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya. Setelah berkubang dalam kegelapan di bawah diktator gereja Kristen (religius-spiritual mutlak), kini mereka menjadi budak monster yang tidak kalah bengisnya bernama materialisme, yang pada kenyataannya merupakan perwujudan langsung dari jiwa Talmud-Yahudi.[9]

Berulang kali al-Qur’an menyitir kisah-kisah umat terdahulu, juga kezhaliman mereka. Pada kenyataannya, ‘Aad, Tsamud, Fir’aun, Namrudz, dan berbagai bangsa maupun rezim kafir di masa silam memang telah berbuat aniaya sangat besar. Namun, kezhaliman mereka ‘hanya’ menyentuh manusia, dan menyisakan alam tetap dalam kemurniannya. Maka, ketika generasi yang rusak itu dipunahkan oleh hukuman Allah, kita nyaris tidak menyaksikan bekas-bekasnya. Negeri-negeri mereka tetap utuh, seakan-akan belum pernah dijamah seorang pun sebelumnya.[10] Kebanyakan mereka bahkan menyembah alam itu sendiri, memandangnya sebagai sesuatu yang sakral; dengan tatapan penuh takzim, bercampur antara kekaguman, ketidaktahuan, rasa takut, harap, ingin tahu, dan prasangka; yang diatas semuanya mereka membangun aneka mitos dan legenda.[11] Namun, peradaban Barat melangkah lebih jauh — sejauh-jauhnya — dibanding para pendahulunya. Mereka menghapus metafisika dari filsafat, menjadikannya semata-mata sebagai fisika dan diatas membangun filsafat materialis. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya? Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? * Mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Qs. al-Jatsiyah: 23-24).

Keberpalingan mereka pun telah mengakibatkan kehancuran tidak hanya pada manusia — lahir dan batin, namun juga tumbuhan, hewan, air, udara, dan tanah. Efek kerusakan itu bahkan telah menyentuh lapisan ozon di ruang angkasa, lalu mencairkan deposit es benua kutub dalam kadar serta perkembangan yang mengkhawatirkan.[12] Kita menyebutnya sebagai fenomena Global Warming (pemanasan global). Laporan dan riset komprehensif yang diorganisir oleh berbagai lembaga lingkungan menyajikan data-data mencengangkan, sementara pada saat bersamaan AS tetap menolak menandatangani Protokol Kyoto.

Sebenarnya, kita menyaksikan Barat yang tidak tinggal diam atas efek samping peradabannya. Mereka menyadari hal itu dan berusaha mengatasinya. Namun, sekali lagi, keberpalingan dari Allah telah mengakibatkan hati mereka menjadi buta sehingga gagal mengenali kebenaran.[13] Solusi-solusi yang tercipta pun ibarat putauw; hanya menenangkan dan melupakan mereka dari masalah sementara waktu, namun samasekali tidak menyelesaikannya. Sebaliknya, justru membuatnya semakin runyam dan kacau.

Dunia Barat yang menyusukan bayi peradabannya kepada umat Islam —  khususnya di Spanyol dan Sisilia — kini telah tumbuh dan berubah menjadi anak bengal. Ia mengambil dari ibu asuhnya itu segala bekal untuk dewasa, namun pada saat bersamaan membuang darinya metafisika dan menjadikannya semata-mata materi. Ia memang tidak secara terus-terang menolak Allah, namun pada kenyataannya tidak menyediakan sesudut pun ruang untuk membicarakan-Nya.[14] Tentu saja, tidak akan tersisa satu produk pun dari peradaban mereka kecuali telah tersentuh oleh materialisme akut ini, baik yang tampak nyata maupun tersembunyi. Mulai dari sains, sosiologi, psikologi, kedokteran, pendidikan, arsitektur, ekonomi, politik, militer, sampai pernik-pernik mainan dan kartun anak-anak!

Diantara kekacauan terparah yang mereka sebarkan adalah kesalahan dalam konsep ilmu dan pendidikan, yang secara membabi-buta diadopsi dan diadaptasi oleh sebagian kaum muslimin. Dan inilah yang telah terjadi. Hari-hari ini, dengan miris kita menyaksikan anak-anak kita berbondong-bondong menuntut ilmu untuk meraih dunia dan menumpuk kekayaan, merebut gengsi dan mengejar status sosial; samasekali melupakan Allah dan mempersetankan kehidupan akhirat, menepikan nurani dan membuang jauh-jauh teladan Nabi-Nya. Benarlah apa yang disitir oleh beliau, limabelas abad silam, “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah kaum sebelum kalian, jengkal demi jengkal dan hasta demi hasta, sehingga andaikan saja mereka masuk ke liang biawak sekalipun, niscaya kalian akan turut juga masuk kesana!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah yang Anda maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” [15]

Maka, betapa butuhnya kita untuk mengenali kembali arah dan tujuan pendidikan kita, kaum muslimin, sebagaimana yang dimanahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

— bersambung — 

Subscribe

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

No Responses

Leave a Reply