Mendahulukan Iman (Kajian Surah al-Muddatsir: 31)

ismillahirrahmanirrahim

Muqaddimah

Ayat 31 surah al-Muddatsir turun sebagai jawaban atas tanggapan miring, sinis dan mengolok-olok yang dikemukakan sebagian kafir Quraisy. Imam Ibnu Katsir, ath-Thabary, al-Qurthubi maupun as-Suyuthi dalam ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur menyebutkan banyak riwayat yang sama dan senada tentang situasi yang muncul di sekitar turunnya ayat-ayat ini. Semuanya merekam pelecehan yang dilandasi kejahilan akan hakikat akhirat.

Setelah turun ayat 30, “Diatasnya (neraka Saqar) ada 19 (penjaga),” maka Abu Jahal berkata kepada orang-orang Quraisy, “Sungguh malang ibu-ibu kalian! Aku dengar Ibnu Abi Kabsyah memberitahu kalian bahwa penjaga Jahannam ada 19, padahal kalian lebih banyak dan lebih pemberani, maka apakah tidak mampu setiap sepuluh orang dari kalian meringkus salah satu dari mereka itu?” Disini, yang dimaksud Ibnu Abi Kabsyah – atau anak Abu Kabsyah – adalah Muhammad Rasulullah SAW, sebab gelar ayah susuan beliau adalah Abu Kabsyah.

Disebutkan pula bahwa ia berkata, “Apakah setiap 100 orang dari kalian tidak mampu untuk meringkus satu dari mereka, kemudian kalian bisa keluar dari neraka?” Ia pernah pula mencemooh, “Muhammad hanya punya pasukan 19 saja.”

Abul Aswad al-Harits bin Kaldah al-Jumahi juga berkata penuh nada mengejek, “Janganlah (angka) 19 itu membuat kalian ketakutan. (Sebab), aku akan menahan sepuluh dari mereka dengan pundakku yang sebelah kanan, dan sembilan yang lain dengan pundakku yang sebelah kiri, lantas kalian bebas untuk masuk ke surga.” Dalam riwayat lain ia berkata, “Aku akan tangani untuk kalian 17 dari mereka, lalu dua sisanya menjadi bagian kalian.” Orang yang berkata penuh kepongahan ini memang dikenal jago gulat yang gagah perkasa.

Maka, turunlah ayat 31, “Dan tidaklah Kami jadikan para penjaga neraka itu kecuali malaikat, dst”, maksudnya tidak mungkin orang-orang kafir itu mampu mengalahkannya.

Membantah Logika Lemah

) وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلاَّ مَلاَئِكَةً (

Ayat ini membantah logika remeh dan lemah yang dikembangkan oleh orang-orang kafir, bahwa mereka akan mengalahkan penjaga neraka yang berjumlah 19 itu. Sebab, para penjaga itu adalah malaikat, makhluk Allah yang terkuat dan perkasa, mustahil dikalahkan oleh manusia yang lemah dan kecil.

Para penjaga itu juga berasal dari jenis yang berbeda dengan makhluk yang disiksa di neraka (jin dan manusia), sehingga tidak akan ada rasa belas-kasih yang biasanya muncul dari makhluk-makhluk yang sejenis ketika harus menyiksa jenisnya sendiri. Para malaikat juga makhluk Allah yang paling sempurna menunaikan hak-hak Allah dan paling kuat untuk marah karena Allah, sehingga tidak dikhawatirkan adanya kelemahan dari mereka.

Mengedepankan Iman

) وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلاَّ فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِيْمَانًا وَلاَ يَرْتَابَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَلِيَقُوْلَ الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللهُ بِهَذَا مَثَلاً كَذَلِكَ يُضِلُّ اللهُ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَآءُ (

Sebagaimana disinggung di muka, ayat ini turun sebagai tanggapan atas komentar miring Abu Jahal dan orang-orang kafir yang semisalnya. Asbab nuzul ayat ini memperlihatkan perbedaan pola pikir antara mukmin dan kafir. Mereka yang ingkar akan mendahulukan akalnya sebelum mempercayai wahyu. Jika akalnya tidak mampu memahami, maka pintu iman pun tertutup baginya. Demikianlah yang terjadi dewasa ini di kalangan sebagian umat. Mereka ada yang lebih mendahulukan akalnya sebelum imannya. Jika ada ayat atau hadits shahih yang tidak sejalan dengan logika, maka serta-merta ditolak dengan beragam alasan.

Di Barat modern, dimana rasionalisme dan empirisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran, mereka hanya bisa menerima sesuatu yang fisika (wujud), menolak metafisika (makna di balik wujud). Sayangnya, pola pikir yang menafikan otoritas wahyu ini justru diimpor ke Dunia Islam, dijejalkan kepada generasi muda dengan embel-embel kemajuan, modernisme, rasionalisme, dsb. Padahal, jika sudah berkaitan khabar ghaib atau perintah ibadah, yang berjalan adalah iman dan ketaatan, bukan logika maupun bukti empiris. Disini, berlaku kaidah tawaqquf, berhenti sebatas apa yang datang dari wahyu, tidak ada pintu bagi keberatan dan gugatan.

Masalah-masalah berikut ini adalah sebagian yang digugat oleh mereka, dengan beragam argumen : poligami, pembagian waris, hijab, perwalian dalam nikah, nikah beda agama, klaim kebenaran eksklusif agama Islam, siksa kubur, ke-ma’shum-an Rasulullah, iman sebagai landasan amal, jihad, konsep Ahli Kitab, dsb.

Seorang mukmin akan mengedepankan imannya sebelum akalnya. Ayat ini melukiskan dengan gamblang efek khabar ghaib tentang penjaga neraka tersebut bagi kedua kelompok. Keimanan seorang mukmin membimbingnya untuk semakin yakin. Sebab, masalah neraka adalah sesuatu yang ghaib, jauh di luar jangkauan nalar, sehingga pemberitaan tentangnya hanya mungkin datang dari Allah yang Maha Tahu segala yang ghaib. Berita tentang ini semakin mempertebal iman, karena Allah telah berkenan menyingkap sebagian rahasia dari alam ghaib bagi mereka. Dengan kata lain, semakin kuat keyakinan mereka bahwa neraka itu haqq adanya, karena para penjaganya pun telah disiapkan. Dari sini, mereka termotifasi untuk beramal shalih, menjaga dirinya dari neraka. Namun, bagi orang kafir, berita semacam itu hanya menambah fitnah. Ada yang menafsirkan kata ini dengan adzab, kesesatan (Ibnu ‘Abbas), atau kecelakaan dan bencana. Kesemuanya bermuara pada satu kondisi nyata yang akan diterima mereka yang mendustakannya, yakni murka Allah.

Ayat ini secara eksplisit juga menyebut kelompok lain yang suka mempermasalahkan khabar al-Qur’an, yakni mereka yang di dalam hatinya ada penyakit, berupa keraguan (syakk) dan iman yang cacat atau palsu (nifaq). Dengan kata lain, ayat ini menunjukkan gejala lahiriah yang mudah dideteksi tentang adanya kemunafikan dan kekufuran di hati seseorang. Jauh-jauh hari al-Qur’an telah meramalkan ciri khas ucapan maupun cara berpikir kalangan yang mendustakannya, dengan mengekspose pemikiran mereka yang tersembunyi. Sebagaimana dimaklumi, surah ini Makkiyah sementara Ahli Kitab dan fenomena kemunafikan baru ada di Madinah. Demikian penjelasan Imam al-Qurthubi.

Ayat-ayat semacam inilah yang paling ditakutkan oleh kaum munafik, yang membuka secara terang-terangan kedok mereka. “Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan terhadap mereka suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakan kepada mereka, ‘Teruskan ejekan kalian (kepada Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan apa yang kalian takutkan itu.” (QS at-Taubah [09] : 64). Sudah jamak dikenal, bahwa orang-orang semacam ini – dulu dan sekarang sama saja – paling tidak mau dihakimi pemikirannya. Mereka sesungguhnya tidak mempunyai landasan yang teguh. Yang ada hanyalah selera nafsu, diatas dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi. Na’udzu billah.

Sebagian Sahabat berkisah, bahwa yang membedakan mereka dengan generasi berikutnya dalam menyikapi al-Qur’an adalah, “Kami diberi iman sebelum diberi al-Qur’an.” Maksudnya, dengan iman yang telah terpatri kokoh di hati itulah segala yang datang dari Allah tidak lagi dipermasalahkan. Bagaimana mungkin membuat seseorang mempercayai al-Qur’an jika ia tidak mengimani Allah, malaikat, dan Rasulullah? Maka, kesempurnaan penghayatan, penerimaan dan pengamalan kita terhadap isi al-Qur’an sangat tergantung kepada kesempurnaan iman kita kepada Allah, malaikat dan Rasulullah SAW. Cacatnya iman dalam aspek ini akan mengakibatkan penerimaan, penghayatan dan pengamalan yang cacat atau bahkan keliru terhadap al-Qur’an. Singkatnya, Rukun Iman yang enam tidak mungkin dilepas sendiri-sendiri, sebab satu sama lain saling mempengaruhi.

Kelak di Madinah, pembeberan sejenis ini diulang kembali dengan lebih jelas. Dalam surah Ali ‘Imran [03] : 7, Allah mengingatkan, “Dia lah (Allah) yang telah menurunkan kepadamu al-Kitab, diantaranya ada yang muhkamat, itu adalah Ummul Kitab (induk al-Kitab), dan yang lainnya mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada (kecenderungan) menyimpang maka mereka akan mencari-cari yang samar-samar (mutasyabih) dari al-Kitab itu untuk menimbulkan fitnah dan hendak mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang memahami takwilnya selain Allah. Dan, orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepadanya, semua berasal dari Tuhan kami’, dan tidaklah mengingat hal ini kecuali orang-orang yang berakal (ulul albab).”

Apa yang diungkapkan ayat ini cukup jelas, mengenai sikap seorang mukmin, yang teguh iman dan mendalam ilmunya; berseberangan dengan mereka yang hatinya dipenuhi kecenderungan untuk menyimpang. Dengan kata lain, seorang mukmin memilih mengikuti al-Qur’an, bukan penilaian dirinya sendiri. Sedang orang-orang yang menyimpang itu pada dasarnya tidak mengimani al-Qur’an, sebab ketika mengkajinya pun sudah dimulai dengan keinginan untuk mencari-cari “makna lain”, demi melegitimasi pendapat dan keinginan hawa nafsunya. Dalam ayat 8, kelanjutan ayat diatas, diajarkan doa yang selayaknya diucapkan oleh seorang mukmin, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau memalingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.” Ini adalah etika seorang ulama’, dan juga bagi semua mukmin, bahwa diatas segenap ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tidak pernah melepaskan diri dari upaya meraih hidayah, bukan mencari-cari kepuasan intelektual atau popularitas.

Jumlah Pasukan Allah

) وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ إِلاَّ هُوَ (

Menurut Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, 19 malaikat itu adalah para pemimpin dan pilihan di kalangan mereka. Adapun jumlah pasti seluruh pasukan mereka, hanya Allah sendiri yang tahu, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini.

Beliau juga menyebutkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, bahwa seusai perang Hunain, saat Rasulullah membagikan ghanimah, Jibril mendatangi beliau. Tak lama kemudian datang lagi malaikat lain yang membisikkan, bahwa Allah menyuruh beliau melakukan begini begitu. Karena tidak mengenal malaikat tersebut, beliau sempat khawatir jika dia adalah syetan, sehingga beliau bertanya, “Ya Jibril, apakah engkau mengenalnya?” Jibril menjawab, “Dia malaikat, dan tidak semua malaikat Tuhanmu aku mengenalnya.”

Menurut riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada satu bagian pun di langit, di setiap area selebar 4 jari, kecuali diatasnya pasti ada satu malaikat yang meletakkan jidatnya untuk bersujud kepada Allah.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan sebuah riwayat panjang tentang peristiwa Mi’raj, bahwa di langit ketujuh Rasulullah SAW menyaksikan seorang syaikh yang duduk di depan sebuah rumah besar, dimana ribuan ribuan malaikat masuk ke dalamnya. Ketika ditanyakan, syaikh itu adalah Khalilullah Ibrahim ‘alaihis salam, yang berada di depan al-Baitul al-Ma’mur, dimana 70.000 malaikat masuk ke dalamnya setiap hari, lalu keluar dan tidak kembali lagi.

Riwayat-riwayat ini memberi gambaran tentang betapa tak terhitungnya malaikat Allah. Sebab, angka 7 dalam bahasa Arab seringkali tidak menyatakan jumlah sebenarnya, namun merupakan ungkapan atas sesuatu yang sangat banyak, melebihi umumnya, atau tidak bisa diungkapan dengan batasan angka-angka. Pengertian seperti ini lebih tepat, sebagaimana diriwayatkan dari Qatadah, Ibnu Juraij, Abu Sa’id al-Khudry, dan ‘Urwah bin az-Zubair. Demikian yang disebutkan Imam as-Suyuthi dalam ad-Durrul Mantsur.

Peringatan Bagi Manusia

) وَمَا هِيَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْبَشَرِ (

Apakah yang dijadikan peringatan bagi kita – manusia – dalam ayat ini?

Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an menulis, “Kata ganti ‘dia’ dalam ayat ini boleh jadi menunjuk kepada tentara Tuhanmu (junuuda rabbika), dan boleh jadi menunjuk kepada Saqar beserta penjaganya. Penyebutannya disini adalah untuk menjadi peringatan, bukan untuk menjadi topik perdebatan dan perbantahan! Hati yang berimanlah yang akan mendapatkan pelajaran dari peringatan ini, sedangkan hati yang sesat maka ia akan menjadikannya bahan perdebatan dan berbantah-bantahan!”

Memang, khabar ghaib maupun sebagian angka-angka dalam ajaran Islam tidak mungkin dijadikan tema diskusi. Semua itu harus didudukkan di atas landasan iman. Tidak ada pembicaraan tentangnya yang berdiri diatas landasan ilmiah dan empirisme semata-mata. Jika kajian sains atau logika diterapkan dan mencapai sebuah kesimpulan tertentu, maka ia bukan penjelasan final dan utama. Kasus serupa ini misalnya rincian jumlah rakaat shalat fardhu. Orang tidak bisa bertanya mengapa shalat Shubuh dua rakaat, tidak tiga atau empat? Pertanyaan sejenis ini bukan pada tempatnya.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Subscribe

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

No Responses

Leave a Reply