Peringatan dan Ancaman Allah (Kajian Surah al-Muddatsir: 8-30)

Bismillahirrahmanirrahim

Muqaddimah

Harap dipahami, bahwa ayat-ayat ini turun dalam periode dakwah terbuka. Figur yang dijadikan obyek di dalamnya pun bukan lagi orang khusus yang menerima dakwah, namun gembong kafir yang menolak dan memusuhi Islam. Gaya yang dipakai lebih terbuka, langsung, tegas dan mengancam.

Asbab nuzul ayat 11-30 berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Bani Makhzum yang sangat memusuhi Rasulullah SAW. Suatu saat ia menemui Abu Bakar dan mendengarkan sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakannya. Tampaknya ia tersentuh, hatinya sedikit melunak, dan memberi komentar yang manis. Hebohlah orang-orang Quraisy atas hal ini. Menurut mereka, jika al-Walid murtad (maksudnya : masuk Islam), niscaya seluruh Quraisy akan mengikuti jejaknya. Ini sangat berbahaya bagi mereka. Ia memang tokoh yang sangat berpengaruh, karena kekayaannya yang membentang sejak Makkah sampai Yaman.

Mereka pun memperbincangkan hal ini, sampai akhirnya Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam menemukan siasat jitu untuk meredamnya. Ia menemui al-Walid, yang kebetulan masih satu marga (Bani Makhzum) dengannya. Ia bangkitkan ego dan gengsi al-Walid sehingga berani menolak al-Qur’an dan membela kemusyrikannya. Ia pun berpikir keras dan menemukan rumusan pernyataan yang diabadikan oleh ayat 24-25 surah ini, “Ini (al-Qur’an) tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Maka, turunlah surah al-Muddatsir ayat 11-30.

Uraian al-Muddatsir 8-30

) فَإِذَا نُقِرَ فِى النَّاقُوْرِ . فَذَلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيْرٌ . عَلَى الْكَافِرِيْنَ غَيْرُ يَسِيْرٍ (

Meski turun tidak bersamaan, namun ayat-ayat ini merupakan kalimat pamungkas yang memberi landasan kokoh bagi pesan-pesan yang telah disampaikan Allah dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam ayat 7, misalnya, terdapat pesan agar kita bersabar dalam mengemban amanah dakwah. Lebih khusus, bersabar menerima gangguan dan tekanan orang-orang yang tidak menyukai dakwah. Pesan ini akan tampak konteks kepentingannya jika ayat 8-10 dibaca sebagai sebuah wawasan spiritual seorang muslim, dalam menjalani kehidupan dunia.

Mengapa harus bersabar atas kelakuan orang-orang kafir di dunia ini, sekarang ?

“Sebab, jika telah ditiup sangkakala; maka waktu itu adalah suatu hari yang sangat sulit; bagi orang-orang kafir itu tidaklah mudah.”

Demikianlah, Imam az-Zamakhsyari dan Abu Hayyan – dua orang tokoh tafsir – memaknai huruf fa di awal ayat 8 dengan sebab. Menurut Imam Ibnu Hisyam an-Nahwy, dalam Mughni al-Labib, huruf ini memiliki 3 kemungkinan makna, yaitu : tartib (menyatakan urutan sesuatu), ta’qib (menyatakan hubungan sebab-akibat yang urutannya tidak bisa dibalik), dan sababiyyah (menyatakan hubungan sebab-akibat yang timbal-balik). Dalam bahasa Indonesia, kita biasanya menerjemahkan fa dengan maka, tanpa rincian lebih spesifik.

Kelompok ayat ini memberi sebentuk hiburan spiritual bagi kita. Bahwa, jika pun kita merasa terjepit dan kalah di dunia ini; sungguh ada akhirat yang akan menghadiahkan kemenangan nyata kepada kita. Mereka boleh menikmati kemudahan disini, namun semua itu tidaklah abadi. Akan ada suatu hari yang teramat berat di hadapan mereka. Hari itu pasti terjadi, dimana tidak satu makhluk pun mampu menghindar.

Kekalahan dan kemenangan di dunia ini temporer. Sangat boleh jadi Allah mewujudkan sebagian kemenangan bagi kaum mukminin di dunia, sehingga kaum kuffar terhinakan. Namun, jika seseorang telah terhina di akhirat, maka tidak ada lagi kemuliaan baginya setelah itu, kecuali jika Allah menghendaki.

Keyakinan akan akhirat ini merupakan landasan kokoh dalam mengarungi beratnya cobaan dan ujian. Mereka yang tidak mengimani akhirat akan mudah putus asa. Sebab, baginya hidup hanya ada di dunia ini, sehingga kegagalan di sini adalah segalanya. Orang beriman bukan orang yang tidak pernah bersedih, namun ia memiliki ketrampilan spiritual untuk mengelola kesedihan sehingga tidak jatuh dalam jurang kehancuran.

) ذَرْنِيْ وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيْدًا . وَجَعَلْتُ لَهُ مَالاً مَمْدُوْدًا . وَبَنِيْنَ شُهُوْدًا . وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيْدًا . ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيْدَ . كَلاَّ إِنَّهُ كَانَ ِلأَيَاتِنَا عَنِيْدًا . سَأُرْهِقُهُ صَعُوْدًا (

Ayat-ayat ini jelas merupakan ancaman. Walau dikemas dalam kalimat yang sopan, namun isinya sangat tidak main-main. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membiarkan orang yang menolaknya itu, tidak lagi ambil pusing dan mengharap kebaikannya. Biar Allah sendiri yang akan turun tangan ‘membereskannya’. Artinya, tokoh ini sudah distempel sebagai ahli neraka. Taubatnya tidak bisa diharapkan, dan dukungannya tidak usah dinanti.

Orang ini sesungguhnya ditakdirkan sebagai pribadi yang unik. Konon, orang yang ditunjuk ayat-ayat ini, yakni al-Walid bin al-Mughirah, digelari al-Wahiid, artinya ‘yang tiada bandingannya’. Hartanya sangat banyak, menyebar di seantero negeri. Anak-anaknya terpandang di masyarakat, sehingga selalu menghadiri upacara-upacara penting. Rezeki dan kekuasaan yang dimilikinya terbentang luas.

Menurut sirah, Bani Makhzum – yakni keluarga besar al-Walid – adalah pemegang kendali pasukan berkuda Quraisy. Pasukan ini sangat penting dan vital dalam strategi perang mereka. Dalam perang Uhud, kaum muslimin kocar-kocar oleh serangan kilat pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin al-Walid, salah seorang putranya. Belakangan, hanya 3 orang dari 10 anak-anak al-Walid yang masuk Islam, yakni al-Walid, Hisyam dan Khalid.

Sebagian tafsir menyebutkan bahwa “keinginan untuk mendapat tambahan” yang disinggung ayat 15 diatas terkait dengan kenabian. Ia meremehkan Rasulullah mengingat status beliau yang miskin. Mengapa bukan dia (al-Walid) saja yang menjadi Nabi? Mengapa justru Muhammad yang miskin yang diangkat sebagai Nabi? Atau, ia menduga bahwa kelimpahan harta, kedudukan, anak-anak, dsb merupakan bukti kecintaan Allah kepadanya. Sehingga, ia berkeyakinan akan mendapat kenikmatan surga pula. Mungkin, semacam itulah cara berpikirnya.

Namun, al-Qur’an membantah kemungkinan itu. Tidaklah mungkin Allah memberinya tambahan kenikmatan ukhrawi jika ia menentang ayat-ayat-Nya. Jadi, ayat ini berbicara tentang kekeliraun berpikir kaum materialis; bahwa kesejahteraan material berbanding lurus dengan ridha Allah. Dewasa ini, gencar dikampanyekan bahwa salah satu ciri kehiduapan ber-Islam yang sukses adalah kesejahteraan duniawi. Cara berpikir yang menggunakan parameter semacam ini dalam melaksanakan ajaran Islam, harus diwaspadai.

Ayat 17 mengancam, kepada al-Walid dan orang-orang yang perilaku maupun cara berpikirnya serupa, bahwa Allah akan menimpakan pendakian panjang yang semakin hari semakin berat. Pendakian sangat memayahkan yang tiada pernah berakhir, sehingga memuncak pada kesulitan-kesulitan besar yang tidak mampu dipikulnya. Kesukaran itu akan berkepanjangan, di dunia dan akhirat, seperti diisyaratkan oleh huruf sin (kelak, akan) di awal ayat 17 ini.

) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ . فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ . ثُمَّ نَظَرَ . ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ . ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ . فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلاَّ سِحْرٌ يُؤْثَرُ . إِنْ هَذَا إِلاَّ قَوْلُ الْبَشَرِ . سَأُصْلِيْهِ سَقَرَ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ . لاَ تُبْقِيْ وَلاَ تَذَرُ . لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ . عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (

Mengapa ancaman yang diberikan kepadanya – dan orang-orang yang sealiran – demikian berat? Sebabnya dijelaskan dalam ayat 18 dan seterusnya. Bahwa, ia telah berpikir, menimbang-nimbang, lalu menetapkan, namun secara tidak obyektif. Dalam riwayat asbab nuzul disebutkan, bahwa ia sampai pada kesimpulan yang mendustakan al-Qur’an, bukan karena ia yakin dan tahu latak kesalahannya. Justru sebaliknya, ia sangat tahu kehebatan dan kebenarannya. Ia merumuskan sebuah pandangan yang merendahkan al-Qur’an karena ia sudah bertekad hati untuk menolak. Jadi, ia tidak berpikir untuk mencari kebenaran. Ia berpikir keras justru setelah mendapat sebuah keyakinan tertentu, lalu mencari-cari alasan pembenaran. Ia telah menyimpulkan, baru memulai berpikir keras, untuk mencari cara yang paling tepat dalam menolak al-Qur’an.

Cara berpikir semacam ini banyak dianut oleh Orientalis dan murid-muridnya di Dunia Islam. Sesungguhnya mereka tidak sedang berpikir untuk mendapat pencerahan dan nilai-nilai dari Kitab Suci ini. Mereka mengerahkan segala sumberdaya dalam studi al-Qur’an semata-mata untuk membenarkan teori yang telah mereka ciptakan sendiri.

Di titik inilah kesesatan mereka bermula. Dengan kata lain, ayat-ayat ini telah diturunkan lebih dari 14 abad silam, telah mengidentifikasi cara-cara berpikir musuh-musuh Islam. Dengan sangat tepat ia mengurai akar kesalahan pemikiran mereka. Karakter para penentang Kitabullah tidak akan meleset jauh dari apa yang telah diramalkannya sendiri. Kita telah diajari untuk menghindar dari lobang-lobang pemikiran yang mencelakakan ini, sekaligus memahami dengan mudah bagaimana cara kaum kuffar menyusun logika studi mereka.

Di akhir ayat-ayat ini, Allah memberi ancaman yang mengerikan. Neraka Saqar. Ayat 26-30 membeber secara singkat neraka ini. Cukuplah bagi kita untuk mengimani dan menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalamnya. Sebab, ayat 30 mengandung pesan ghaib yang hanya diketahui Allah akan hakikatnya. Jumlah penjaga neraka yang 19 itu. Bagaimanapun, orang-orang yang hatinya telah ditumbuhi penyakit nifaq akan ragu dan bertanya-tanya tentangnya. Na’udzu billah.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Subscribe

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

No Responses

Leave a Reply